QUOTE OF THE DAY

~"~ Tak perlu mencari alasan ketika berbuat salah. Tetapi akui, perbaiki, dan upayakan untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi~"~

20 April 2011

Mengatasi Kakak Adik Berantem

Bertengkar juga bisa menjadi ajang belajar sosialisasi dan membentuk karakter.

Pertengkaran antar saudara tidak selalu berdampak buruk. Pertengkaran bisa menjadi media bagi anak untuk belajar cara menyelesaikan masalah, mengutarakan pendapat, serta bersosialisasi. Karena itu bunda tak perlu selalu turun tangan saat kedua buah hati Anda mulai bertengkar.

Faktor Pemicu Pertengkaran
  • Beda pendapat. Siapa lebih jago, Naruto atau Avatar? Kakak pilih Naruto dan adik membela Avatar. Perdebatan soal ini bisa berbuntut pertengkaran, teriakan bahkan pukulan.
  • Kondisi emosi anak. Kakak yang sedang kesal lantaran kalah balap sepeda dengan teman, bisa marah karena kata-kata si adik, atau mainannya sedang dipegang si adik.
  • Merasa lelah atau mengantuk. Adik ingin tidur, kakak memaksanya bermain. Hmm, siapa yang tidak marah, dipaksa bermain di saat ingin tidur?
  • Salah paham, saat kakak ingin memberesi mainan yang berantakan. Dikira ingin merampas mainannya, si adik marah besar.
  • Cari perhatian. Merasa diabaikan ayah, adik menarik rambut kakak untuk memancing keributan. Setelah terjadi ribut-ribut, mereka akan dilerai. Perhatian ayah akan beralih kepada biang keladi keributan.
  • Cemburu. Perasaan yang wajar, yang bisa dialami orang dewasa sekalipun. Adik dibelikan mainan baru, kakak tidak. Kakak merasa, adik lebih disayang.
Sikap tepat orangtua. Orang tua dibutuhkan sebagai penengah atau wasit agar anak dapat belajar dari pertengkaran ini dan berhak meminta time out bila diperlukan. Menghadapi pertengkaran anak-anak. 
  • Tetap tenang meski menjengkelkan. Jangan terpancing marah ketika anak-anak membuat huru-hara. Jaga pula ekspresi wajah Anda agar tetap cool. Sikap marah Anda akan menghambat kemampuan anak mengungkapkan pendapat dan mengekspresikan perasaannya. Tenang dan amati terus perkembangannya.
  • Hindari intervensi, jangan buru-buru ikut campur. Biarkan anak mencoba menyelesaikan sendiri masalah mereka. Mampu mengatasi masalah adalah salah satu tanda kemandirian anak. Terlalu sering ikut campur akan membuat si kecil sulit mengambil keputusan dan tidak bisa belajar mencari jalan keluar dari konflik yang dihadapinya.
  • Tawarkan pilihan solusi, bila pertengkaran kian memanas. Bantu meredakannya dengan cara menawarkan solusi. Misalnya karena berebut mainan, katakan bahwa mainan itu hanya satu. Kalau terus bertengkar, akibatnya tak ada seorang pun yang bisa memainkannya. Tawarkan apakah mereka ingin main sama-sama atau bergiliran.
  • Jangan pupuk kebiasaan mengadu sebab dapat memupuk perilaku manipulatif untuk membuat Anda memihak pada salah anak. Jangan terpancing membela salah satu anak apabila salah seorang dari mereka mengadukan bahwa saudaranya yang bersalah. Jangan memberi respon yang bisa memupuk kebiasaan mengadu pada anak.
  • Tidak memihak, meski Anda melihat si adik memukul kakaknya. Jangan langsung menuduh adik yang bersalah. Biarkan mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kalaupun Anda tahu siapa yang memulai perselisihan, sebaiknya Anda tetap menunjukkan sikap adil dan tidak memihak.
  • Turun tangan bila mereka sudah ’main tangan’. Pertengkaran sebatas adu mulut cukup disikapi dengan diam. Biasanya, bila orangtua tidak menunjukkan reaksi berlebihan, pertengkaran akan berhenti dengan sendirinya. Setelah selesai bertengkar, baru dibahas bersama apa yang menjadi masalahnya. Tapi, segera pisahkan pertengkaran yang sudah berubah menjadi ajang baku pukul, saling jambak rambut, dan kekerasan lainnya.
  • Ajak anak bicara setelah pertengkaran usai. Minta kedua anak duduk bersama Anda dan membicarakan apa yang baru saja terjadi. Biarkan mereka lebih banyak berbicara dan Anda mendengarkan. Fokuskan diskusi pada apa yang menjadi pokok permasalahan, bukan pada siapa yang bersalah.
  • Ajari meminta maaf. Dalam pertengkaran kakak adik, kadang-kadang tidak ada salah satu pihak yang mau menanggung kesalahan. Ajak keduanya untuk sama-sama meminta maaf. Selanjutnya, ajarkan anak untuk tidak gengsi meminta maaf melalui perilaku Anda sehari-hari.
Kakak adik yang sering bertengkar justru akan berhubungan baik saat sudah lebih besar. Karena mereka sudah saling mengenal. Asalkan pertengkaran tidak meningkat menjadi persaingan yang melibatkan emosi yang rumit (sibling rivalry).
Menghindari sibling rivalry!
  • Perhatian harus seimbang, tidak memberikan perhatian berlebihan pada salah satu anak.
  • Gali perasaan anak. Bila anak meributkan siapa yang harus duduk di sebelah kanan bunda ketika nonton televisi, jangan dulu kesal. Mungkin itu hanya usaha untuk merebut perhatian Anda. Memarahi salah satu anak akan   menguatkan perasaan anak bahwa Anda memang tidak menyayanginya.  Pancing dia untuk mengungkapkan perasaan.
  • Jangan berat sebelah, meminta kakak untuk selalu mengalah. Ini bisa membuat si kakak berkembang menjadi pribadi yang tidak percaya diri, dan adik   menjadi anak yang tidak mandiri dan tidak bertanggungjawab.
  • Hindari membandingkan anak agar tidak menimbulkan kecemburuan dan menyuburkan bibit persaingan di antara mereka.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...